Beranda » Artikel » BUDAYA BELITUNG & KEUNIKAN ADAT MASYARAKAT MELAYU

1. Budaya Belitong atau Belitung

Budaya Belitung – Urang Belitung atau biasa disebut Belitong adalah masyarakat Melayu. Sebagian besar dari mereka menempati area yang jauh dari perkotaan atau di kampong-kampung. Maka, oleh orang lokal dengan sebutan urang darat. Begitu juga orang-orang melayu ini ada juga yang tinggal di pesisir, mereka disebut Urang Laut atau Urang Juru.

Dengan demikian, meskipun banyak kesamaan, karena beda mata pencaharian, maka timbul pula keanekaragaman adat-istiadat di antara melayu urang darat dan urang laut.

Urang Laut ini disebut Suku Sekak atau Suku Sawang. Dahulu kala, masyarakat kedua suku ini hidupnya tidak menetap (nomaden). Terkadang mereka membangun rumah ‘tinggi’ di pantai, demikian juga di pulau-pulau satelit Belitung. Orang-orang dari Suku Sawang ini rata-rata berasal dari Riau /Lingga. Kemudian Orang Juru berasal dari Kepulauan Sulu / Mindanao.

Perbedaan antara orang Juru dan Sawang adalah dari jumlah. Orang Juru cenderung lebih sedikit dibandingkan Sawang, namun Orang Juru lebih berbaur dengan masyarakat Melayu Belitong. Selain Orang Juru dan Sawang, Etnis lain yang mendiami Pulau Belitong adalah dari Etnis China. Mereka didatangkan ke Pulau Belitong untuk menjadi pekerja tambang timah pada masa kolonial Belanda.

2. BAHASA MELAYU BELITONG

Adapun bahasa yang digunakan oleh orang Belitong adalah Bahasa Melayu Belitong. Bahasa Melayu Belitong memiliki kesamaan dengan bahasa di beberapa daerah di Kalimantan dan Malaysia. Salah satu jenis Bahasa Melayu Belitong yang bisa dilihat pada masa sekarang ini adalah bahasa yang digunakan dalam pertunjukan drama klasik melayu, yaitu pertunjukkan Dul Mulok.

3. SENI TRADISIONAL BELITUNG

Kesenian Tradisional yang ada di Pulau Belitong meliputi antara lain seni musik, seni tari, sastra tutur, dan teater rakyat, diantaranya :

Budaya Belitung

  1. Gambus Melayu Belitung

Gambus sejatinya instrument musik melayu. Karena Belitong adalah masyarakat melayu, oleh karena itu kesenian musik gambus termasuk dalam budayanya. Adapun jenis instrumental dari alam music gambus ini umumnya bernuansa islami. Dalam berbagai pentas gambus di acara kesenian dan selamatan, pergelaran gambus biasa diiringi syair-syair petuah.

Gambus BelitUng

Namun kini, kesenian gambus sudah mulai beralih. Tidak hanya untuk pasaran tradisional, namun sudah beranjak ke lingkup pertunjukan seni modern dan internasional. Gambus kekinian tidak hanya akan berisi syair-syair petuah, lagu-lagu pop dan reggae, dan berbagai genre music pun sudah berkolaborasi dengan alat music melayu ini.

Budaya Belitung

Khusus di Belitong, kesenia musik Gambus dikembangkan oleh Husni Mariosha. Sang Begawan Seni ini tidak hanya memainkan alat-alat music, juga membuat berbagai varian alat musik gambus. Oleh Husni Mariosha, Gambus yang identik dengan pertunjukan music mendayu ala melayu, kini sudah bisa tampil bersama music reggae, pop, dan genre musik lainnya.

Berebut Lawang Belitung

Tradisi atau adat Berebut Lawang ini acapkali ada dalam tahapan resepsi pernikahan di Belitong. Dalam Berebut Lawang, antara kedua pihak perwakilan mempelai laki-laki harus berani beradu pantun dengan pihak mempelai wanita. Ada pun tujuannya agar diberikan izin untuk memasuki rumah sang calon mempelai wanita.

Tidak tanggung-tanggung, dalam sesi Berebut Lawang, pihak mempelai laki-laki harus melewati tiga pintu yang sudah dibuat oleh pihak mempelai wanita. Pertama, yaitu saat mempelai pria hendak memasuki halaman rumah sang mempelai wanita. Ini adalah tahap perkenalan calom mempelai pria yang diwujudkan dalam beradu pantun.

Berpantun Dari Pintu Ke Pintu

Berhasil melewati pintu pertama, rombongan mempelai pria kembali ditahan di pintu kedua, yaitu tepat di depan pintu masuk rumah mempelai wanita. Di pintu kedua ini, perwakilan kedua calon kembali beradu pantun, isinya ucapan salam untuk masuk ke rumah calon mempelai wanita. Dan di pintu terakhir adalah di depan kamar mempelai wanita. Di sini, berbalas pantun kembali dilancarkan antara kedua belah pihak.

Tidak hanya berbalas pantun, di setiap pintu yang dimasuki, perwakilan mempelai pria memberikan duit pekeras atau semacam uang perayu kepada perwakilan mempelai wanita. Duit Pekeras yang didapat di halaman rumah akan diberikan kepada tukang tanak nasi dalam pernikahan tersebut. Duit Pekeras yang diterima di depan rumah akan diberikan kepada Kepala Gawai (Pemimpin Hajatan). Terakhir, Duit Pekeras akan diserahkan pada tukang rias atau biasa disebut Mak Inang.

Beripat Beregong

Beripat Beregong adalah Budaya belitung dalam bentuk pemainan adu ketangkasan. Masing-masing pemain menggunakan (cambuk) rotan sebagai alat pemukul. Keduanya ada kepandaian dalam memainkan rotan dan bagi yang mengenai punggung belakang, maka akan mendapat nilai. Dalam permainan ini tidak diperkenankan memukul di bagian kepala atau pinggang ke bawah.

Budaya Belitung

Sejarah permainan Beripat Beregong ini diawali oleh kisah seorang perempuan yang banyak disukai oleh pemuda, mereka berlomba-lomba ingin melamar perempuan cantik ini. Bukan buatan, para pelamar ini juga memililki ilmu (tenaga dalam). Orangtua mempelai bingung, akhirnya menyerahkan keputusan kepada si pelamar, akhirnya semua sepakat untuk mengadakan seyembara adu ketangkasan dengan cambuk rotan. Siapa pemenang, dialah yang berhak mendapatkan perempuan pujaan.

Beberapa waktu kemudian, beripat beregong muncul di setiap resepsi pernikahan di jama dulu. Kini, Kesenian Beripat Beregong banyak ditampilkan pada acara-acara kesenian di Belitong seperti Maras Taun, penyambutan tamu agung, serta di acara-acara adat dan kesenian Belitong.

Betiong

Betiong merupakan kombinasi musik tradisional Belitung dikombinasikan dengan atraksi saling berbalas pantun, juga sembari bernyanyi. Pantun ini menggunakan bahasa asli Melayu Belitong dari daerah Belantu (sekarang disebut Parang Bulo). Kata Betiong berasal dari ketiong adalah burung beo. Menggambarkan aksi seperti burung beo yang berbalas bahasa atau dalam hal ini berbalas pantun.

Ciri khas kesenian Betiong terletak pada pantunnya yang spontanitas dengan berbagai makna. Mulai dari percintaan, perkawanan, kehidupan sehari-hari hingga sindiran. Jika salah satu pemain tidak mampu membalas pantun dari lawan mainnya, maka pemain tersebut dinyatakan kalah.

Dalam penyajiannya, kesenian Betiong  menggunakan perangkat instrument yang terdiri dari vocal, lima buah gendang, tawak-tawak, gong dan piul atau pun biola. Pada masa kini, pelaku kesenian Betiong telah memodifikasi musik dengan menambahkan Instrument-instrument pendukung diantaranya menggunakan instrument tamborin, symbal, dan tom-tom dengan tujuan menarik minat penonton.

Dul Mulok Belitung

Dul Mulok merupakan sebuah drama tradisional masyarakat Melayu Belitong. Pada awalnya, Drama Dul Mulok menceritakan kehidupan raja-raja Melayu Belitong pada masa lampau. Namun di kekinian, Drama Dul Mulok mulai bercerita tentang kehidupan masyarakat secara umum di berbagai lapisan.

Budaya Belitung

Dalam Dul Mulok akan timbul berbagai kesenian yang ada, termasuk seni bermusik melayu dan kebiasaan berpantun masyarakat. Dalam Dul Mulok juga terdapat syair-syair.

Hingga kini kesenian Drama Dul Mulok terus berkembang seiring zaman. Drama Dul Mulok tidak hanya menampilkan kehidupan raja dan kejadian sehari-hari masyarakat melayu. Drama Dul Mulok juga menceritakan hal-hal lucu seperti stand up comedy, atau opera van java.

Rumah Adat Belitong

Masyarakat Belitung memiliki rumah adat yang biasa disebut Rumah Gede atau Rumah Panggong. Rumah adat Belitung ini merupakan rumah Panggung (Panggong) untuk bangsawan. Karena skala ukuran besar disbanding dengan rumah penduduk biasa, Rumah Adat Belitong memiliki lima ruangan, sedangkan rakyat biasa hanya memiliki empat ruangan. Sebuah rumah panggung besar dan kokoh.

Budaya Belitung

Rumat Adat Belitong berbahan dasar kayu lubin, rumah ini terdiri dari tiga bagian, yaitu ruang utama, loss (selasar) dan dapur.

Rumah Adat Belitung biasa digunakan sebagai tempat upacara adat budaya Melayu setempat dan pertunjukan kesenian seperti, Beripat dan tari-tarian daerah.

Lesong Panjang

Lesong panjang biasanya dilakukan pada saat musim panen padi tiba. Alat utama dalam lesong panjang tentu saja lesong dan alu (penumbuk). Pada musim panen padi tiba, baik muda mudi dan orang tua berkumpul menumbuk padi sembari bercengkrama satu sama lain. Karena pada saat musim panen tiba adalah momentum  berkumpulnya sanak saudara.

Budaya Belitung

Kesenian Lesong Panjang | Budaya Belitung

Sekarang ini, lesong panjang sudah diadaptasi dalam berbagai jenis kesenian, seperti tarian yang berpadu dengan alat musik tradisional.

Maras Taun

Istilah Maras taun berasal dari kata maras yang berarti mengiris ( membersihkan duri halus ) sedangkan taun berasal dari kata tahun. Maras taun diadakan setiap setahun sekali oleh masyarakat Belitong sebagai wujud rasa syukur setelah melewati musim panen.

Ritual utama maras taun adalah:

–          doa awal,

–          tepong taw Belitung dan

–          doa penutup.

Membuka Kubok

Dalam perayaan ini, kita bisa menyaksikan kesenian tradisional khas Budaya Belitung seperti tari sepen, nutok lesong panjang dan ngemping. Maras taun adat bari’e Urang Belitong dan sampai saat ini masih tetap dilakukan di pulau Belitung namun banyak yang tidak mengetahui bagaimana asal maras tahun ini terjadi di Pulau Belitung.

Budaya Belitung

Sering disebut juga Maras Taon, bermuasal sejak kurun waktu yang tak diketahui pasti. Muncul dan berkembangnya prosesi itu seiring dengan pola pikir masyarakat tradisional Belitong. Mulanya pen

duduk atau masyarakat Belitong yang menempati bagian pesisir atau pedalaman daratan, hidup berkelompok menempati wilayah pemukiman yang disebut Kubok dan Parong.

Penghuni Kubok adalah komunitas kecil berasal dari sebuah keluarga yang kemudian berkembang menjadi beberapa keluarga hingga membentuk perkampungan kecil yang disebut Kubok. Setiap Kubok dipimpin seorang yang dituakan disebut Kepala Kubok. Penghuni Parong merupakan komunitas keluarga yang tidak berasal dari satu keluarga tapi dari beberapa keluarga dan jumlahnya lebih ramai hingga membentuk sebuah perkampungan.

Baik Parong atau pun Kubok dipimpin seorang ketua adat yang ” dituakan ” di sebut kepala Parong atau kepala Kubok. Dituakan artinya memiliki kepiawaian termasuk ilmu perdukunan, karenanya ketua kelompok itu juga otoritas merangkap menjadi dukun yang melindungi warganya. Kemudian Parong atau Kubok beriring masa bertambah populasinya, ketika sudah menjadi sebuah perkampungan maka dukun tersebut tetap menjadi dukun sekaligus merangkap kepala kampungnya, kini dalam masyarakat Belitong dikenal adanya dukun kampong.

Masih Berlangsung  Hingga Sekarang

Pola ini terus menjadi tradisi hingga zaman ini, bahwa di tiap kampung harus tetap memiliki seorang dukun kampung di sampingnya adanya lurah atau kepala desa sebagai pimpinan politis adminisratifnya. Pembukaan Kubok atau Parong bermula dari membuka hutan guna untuk berladang padi sebagai sumber makanan utamanya penduduk Belitong.

Sebagai rasa syukur atas panen inilah kemudian diadakan perhelatan ritual ini pada setiap tahunnya. Dalam rasa syukur ini dimintakan pada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan warga dan keberhasilan panen di tahun mendatang. Rasa syukur ini pada awalnya disebut Memaras atau berselamatan tahun yang kemudian disebut saja dengan “Maras Taon atau Maras Tahun”

Promo Paket Super Hemat – Belitung Liburan

Promo Paket Belitung

Muang Jong

Muang Jong atau Buang Jong adalah sebuah ritual adat Belitong yaitu mengarungkan atau melepaskan kapal kecil yang berisikan sesajian ke tengah laut. Ritual ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur dan keselamatan saat mengarungi, mencari ikan di laut.

Budaya Belitung

Tradisi ini dilakukan oleh Sawang di Pulau Belitong. Upacara sakral Budaya Belitung ini menjadi salah satu daya tarik wisata ini konon berawal dari kejadian sekelompok pelaut Suku Sawang yang terkena musibah badai di laut. Pada saat itu ombak bergulung-gulung disertai hujan badai membalikkan perahu mereka. Setelah berminggu-minggu terapung, akhirnya pertolongan itu datang lewat penjelmaan dewa-dewi. Makhluk ini dipercaya sebagai penguasa di laut. Para Pelaut yang terkena

Budaya Belitung

musibah ini kemudian diselamatkan ke tempat yang disebut Gusong Timur. Di sana diperlihatkan sebuah jong (perahu) dan pondok kecil yang mereka sebut ancak.

Ketika penyelamat orang sawang itu menghilang, sadarlah mereka bahwa sang penyelamat tak lain adalah dewa dewi penguasa laut. Sejak saat itulah orang Sawang memutuskan mengadakan ritual Muang Jong. Pelaksanaan ritual Buang jong ini akan berlangsung selama tiga hari tiga malam.

Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa tahapan ritual Budaya Belitung yang harus dijalankan secara berurutan. Selama pelaksanaan Selamat laut ini pula masyarakat nelayan tidak boleh melakukan aktifitas atau mencari ikan di laut.

Nirok Nanggok

Nirok Nanggok adalah wujud kearifan lokal Budaya Belitung pada ekosistem sungai. Ritual ini merupakan acara menangkap ikan secara masal di sungai. Biasanya acara nirok nanggok dilakukan pada saat musim panas tiba, yaitu di saat sungai-sungai kering.

Alat yang dipakai dalam Nirok Nanggok adalah Tirok sejenis tombak mata satu dan Tanggong sejenis jarring yang terbuat dari jalinan rotan untuk menangkap ikan.

Kini Menjadi Tradisi

Jika dahulu nirok nanggok dilakukan berkawan-kawan atau bersama kerabat / keluarga beramai-ramai mencari sungai kering di dalam hutan, namun kekinian, sudah menjadi tradisi. Bahkan, tradisi nirok-nanggok kini menjadi ajang lomba yang diselenggarakan suatu kelompok masyarakat. Siapa mendapat ikan pertama dan paling banyak, maka dialah pemenangnya.

Kegiatan atau dalam pergelaran kesenian Nirok Nanggok menjadi ajang yang baik untuk bersilaturahmi antar kampong, keluarga dan sesame tetangga. Terkadang, kegiatan Nirok Nanggok juga sering dilakukan bersama sanak saudara mengiringi panen padi, untuk dimakan sebagai temannya nasi.

Tari Campak

Campak atau tarian campak sangat digemari oleh masyarakat Belitong. Campak adalah juga varian lain dari tradisi berbalas pantun  di antara muda-mudi. Pelantun campak dari wanita akan menyanyi berisi pantun. Penari yang sekaligus penyanyi wanita ini kemudian mendatangi pemuda yang menarik hatinya lalu menyematkan selendang di leher pria. Jika selendang sudah melekat di leher pria, maka wajiblah pria ini naik ke panggung dan berjoget serta berdendang bersama wanita ini.

Setelah senang berjoget dengan wanita ini di atas panggung, pria-pria ini hendaklah menyematkan uang di tempat yang sudah disediakan sebagai ucapan terima kasih.

Kesenian campak ini tentu saja didukung oleh music tradisional seperti gong dan biola. Setiap tarian yang dilakukan mengikuti irama music dengan gerakan maju dan mundur.

Campak atau kesenian campak berpantun serta berdendang ini acapkali dihadirkan di acara perkawinan dan Maras Tahun, serta dalam ajang-ajang lainnya.

Tarian Pendulang Timah Edisi Baru Budaya Belitung

Tarian pendulang timah merupakan representasi anak-anak penambang timah yang setiap hari bekerja sebagai pendulang timah. Pendulang timah merupakan strata terendah dalam era kejayaan timah di Belitong. Mereka ngelimbang (mendulang) timah di sungai-sungai atau kolong-kolong eks penambangan. Para pendulang timah ini mengambuil pasir-pasir yang mengandung timah, kemudian didulang dan mengambil biji-biji kecil timah.

Budaya Belitung

Oleh Andrea Hirata, ketika Wisata Laskar Pelangi mulai dikenal luas di Indonesia, Novelis Melayu ini kemudian berinisiasi mencinptakan tarian pendulang timah yang dilakukan oleh anak-anak penambang melayu Belitong. Kini, Tari Pendulang Timah bukan hanya termasuk dalam daftar baru Budaya Belitung, namun sudah diakui secara nasional.

Ciri-ciri anak pendulang timah adalah dengan menggunakan celana pendek dan tidak berbaju, sedangkan sekunjur badannya dilumuri lumpur berwarna warni. Tari ini kini muncul dalam pergelaran bagi turis yang datang ke Belitung.

Tari Sekapur Sirih

Sekapur sirih adalah salah satu jenis tarian selamat datang yang berasal dari Belitung, selain tari sepen. Tarian ini juga sering ditampilkan dalam menyambut tamu-tamu besar. Dalam tarian ini, salah satu penari memegang tempat keminang untuk menaruh kapur dan sirih.

Di ujung tarian, pemegang keminang akan mendekati tamu dan meracik kapur sirih dan meminta tamu untuk mengunyah kapur sirih tersebut.

Tari Sepen

Tari Sepen merupakan jenis tarian tradisional masyarakat Pulau Belitung yang di dalamnya terdapat unsur-unsur gerakan bela diri pencak silat. Tarian yang mengutamakan kelincahan tangan dan kaki ini sangat kental dengan Budaya Belitung yang kemelayu-melayuan. Umumnya, tari sepen ini biasanya ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu besar atau tarian selamat datang.

Dengan kelincahan tangan dan kaki, gerakan tarian pasangan pria dan wanita ini didominasi oleh gerakan tepuk tangan yang selaras dengan musik pengiring tarian. Dengan formasi cantik ala penari, perpindahan gerakan yang cekatan membuat tarian ini indah dipandang. Tari Sepen ini biasanya diiringi oleh alat musik dari akordeon, rebana, gendang, biola, akordeon dan alat musik pendukung lainnya.

Dalam pertunjukannya, Penari wanita memakai busana baju lengan panjang, celana panjang dan kain penutup pinggang dan kerudung di bagian kepala. Kostum Penari Sepen ini didominasi oleh warna-warna cerah simbol kebahagian dan kegembiraan.

Tradisi Makan Bedulang Melayu Belitung

Masyarakat Melayu Belitong memiliki budaya khusus atau khas dalam menyantap makanan. Istilahnya Makan Bedulang. Bedulang atau dulang merupakan nampan bulat yang terbuat dari bahan asli kuningan. Di atas nampan bulat inilah terletak beberapa menu makanan yang disajikan berkeliling di dalam dulang. Adapun satu jenis makanan yang dipasang di tengah merupakan menu utama.

Budaya Belitung

Cara penyajian Tradisi Makan Bedulang ini yaitu; makanan yang berada di atas nampan atau dulang ini kemudian ditutup dengan tudung saji atau tudong saji, urang Belitong biasa menyebutnya mentudong. Tentunya tidak hanya lauk pauk, dalam paket sajian makan bedulang ini juga terdapat nasi sebakul (sebakak) dan kue sebagai makanan penutup.

Keunikan Makan Bedulang

Adapun keunikan Makan Bedulang ini dibatasi hanya untuk kuota empat orang. dari mulai lauk, nasi, piring dan minuman memang

Budaya Belitungdisajikan hanya untuk empat orang.

Ada filosofi dan tata cara dalam Makan Bedulang dalam Budaya Belitung. Misalnya, diketahui yang lebih muda di antara empat orang ini, dialah yang akan mengambilkan nasi untuk tiga orang yang lebih tua. Kemudian, di sebelah tempat cuci tangan terdapat kain lap atau lap tangan yang terlipat. Setiap selesai mengelap tangan (selesai makan), maka hendaknya membalikkan lipatan dan memunculkan bagian yang bersih. Tujuannya, agar siapa yang menggunakan selanjutnya mendapatkan bagian yang bersih.

Kebiasaan makan bedulang di dalam masyarakat Belitong ini kemudian memunculkan rasa berbagi dan menghormati yang lebih tua. Hingga kini, Budaya Belitung makan bedulang masih ada di dalam adat masyarakat Belitong, terutama saat merayakan hari pernikahan.

Tertarik mengexplore Belitung? Jika suatu hari Anda berminat berwisata ke Pulau Belitung, tentunya Anda bisa menggunakan jasa Belitung Tour Organizer yang memiliki varian Paket Tour Belitung. Anda akan dipandu oleh Guide dan Driver lokal berpengalaman yang bisa berbicara banyak seputar destinasi wisata dan budaya Belitung.(O-Tours)

 

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.